Rabu, 03 Desember 2008

Scream




A thousand door atau lawang sewu, mendengar nama itu orang-orang pasti takut. Beberapa waktu yang lalu aku sempat menguji mental dan keberanianku, aku besama 4 orang temanku memutuskan untuk masuk ke lawang sewu. Mungkin kalau masuknya pada saat siang hari suasananya tak begitu seram. Namun saat itu aku beserta teman-teman masuk tepat jam 10 malam. Tepat saat pertama kali kakiku kupijakkan, aura yang berbeda sudah kurasakan. Bau wangi yang begitu menyengat menusuk ke hidungku, ya sepertinya bau kembang yang kucium saat itu. langkah demi langkah terus aku ayunkan, didampingi satu orang guide kami meneruskan penelusuran yang penuh ketegangan malam itu. Saat aku dan teman-teman beralih ke lantai dua, bau itu mulai hilang, namun tak lama kemudian digantikan oleh bau dupa. Memang suasana didalam bangunan yang bergaya arsitektur belanda tersebut agak gelap karena kami hanya diterangi oleh sebuah senter yang dipegang oleh guide kami. Aku sempat terkagum melihat keindahan bangunan yang sudah terhitung tua dan kuno tersebut. Begitu kuatnya bangunan tersebut, saat aku dan kawan-kawan berada di lantai paling atas kami sempat ditinggal sendirian agar dapat merasakan aura mistis yang ada. Sempat kurasakan bulu kudukku berdiri waktu itu, namun belum sempat melihat apapun waktu yang diberikan sudah selesai. Penelusuran kamilanjutkan ke lantai yang paling bawah, ruangan bawah tanah tepatnya. Konon ruangan tersebut sempat dijadikan penjara pada saat Belanda menjajah Indonesia beberapa puluh tahun yang lalu. Namun bagiku ruangan tersebut tidak layak untuk dijadikan penjara. Ada 2 macam penjara, penjara berdiri dan penjara duduk. Penjara berdiri berukuran 2x2 meter dengan tinggi 2,5 meter tetapi didalam penjara tersebut ditempati oleh lima orang tahanan, sedangkan penjara duduk dengan ukuran yang hampir sama hanya saja tinggi penjara tersebut sekitar 1 meteran, dihuni oleh 5 orang tahanan pula, dengan air yang menggenangi seluruh tubuh para tahanan. Mendengar hal tersebut aku sempat ngeri , dan terlintas di benakku harusnya kita bersyukur atas kemerdekaan yang kita milki sekarang ini. Kita tidak perlu mengalami hal yang sedemikian, dimana para pejuang berjuang mati-matian untuk merebut kemerdekaan.


Ya satu pelajaran yang aku dapat saat itu, setelah selesai berputar-putar dan merasa kelelahan. Kami berlima nongkrong di tugu muda sambil membahas hal yang ada di dalam lawang sewu tadi. Sungguh menarik, dan kuharap beberapa hal yang ada di dalam bangunan tua tersebut dapat memberiku sesuatu yang bermanfaat. That's all.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Hi27x,dah berani uji nyali.
Besok kalo pulang jangan lupa bawa setan, eh maksudnya buah tangan